Menghitung hari detik demi detik
Masa kunanti apakan ada
Jalan cerita kisah yang panjang
Menghitung hari
( sepengkal lirik menghitung hari by Krisdayanti)
Lagu diatas menceritakan tentang penantian seseorang akan sebuah pencapaian akan tetapi, dia memikirkan sesuatu hal di lain sisi yang membuat dia berat dengan pertimbangan tersebut. Memasuki jurusan di Fakultas ilmu Budaya Undip tahun 2009 awal saya menapaki sebuah jalan baru dalam kehidupan. Sebuah jalan terang menuju masa depan pendapat banyak orang mengatakan begitu. Tak heran, perguruan tinggi menjadi sebuah sorotan mewah ditengah masyarakat sejak abad ke -19,ketika banyak sekolah -sekolah yang bisa di akses anak-anak kalangan kelas-kelas rakyat bukan saja kalangan priyayi saja.
Masuk jurusan ini menjadi sebuah pertanyaan besar, mau jadi apa kamu nanti? banyak cibiran dari masyarakat yang mengangap sepele tentang " fakultas kebudayaan". Semakin menikmati menuntut ilmu dengan panduan berbagai karya sasrtra bersejarah dari Eropa hingga Indonesia membuat kekayaan luar biasa dalam benak ini. Jiwa yang selalu ingin mendobrak, selalu ingin tau sesuatu dan tidak berhenti untuk belajar membuat saya cepat mencerna.
Tiba di semester akhir saya mulai sangat menyukai buku dan hasil karya sastra apapun itu lukisan, puisi, tarian dan semua hal yang berbau seni untuk diteliti lebih lanjut.Untuk meneliti dan menulisnya bukan perkara mudah hanya ditulis saja. setelah berkenalan dengan " skripsi " saya mulai mengerti guna sumber- sumber yang digunakan sebagai bahan penulisan, bagaimana membuat tulisan bermakna ilmiah dan tidak saja sekedar hanya menulis. Ketika kesadaran itu mulai ada terpikir untuk saya mencari buku-buku fenomena untuk bisa berbicara sesuatu, lebih dari apa yang bisa di ceritakan orang pada masa sezaman. sebuah perantara yang bisa menyambungkan masa saat ini dan masa lalu. Lalu apa itu? jawabku adalah " Buku". Ya, benar kata orang buku adalah jendela ilmu dan jendela dunia.
dilain sisi saya sangat sedih ketika nanti saya harus meninggalkan gudang-gudang harta karun yang orang lebih sering menyebutnya "perpustakaan". sejak saat itu saya ingin memindahkan satu per satu buku-buku dari perpustakaan jurusan * niat jelek....ketika surat sakti itu selelsai maka selesai pula akses saya memasukinya. Tapi, saya tidak patah semangat harus ada medan baru yang saya bisa jelajah selain medan saat ini :)
Ketika saya menulis ini di benak saya masih berpikir,,,
bagaimana cara memindahkan harta karun itu, dengan keterbatasan bujet yg tersedia...
ya pasti ada...tenang..:)
sumber : Dokumentasi edukasi.kompasiana.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar