Selasa, 10 Desember 2019

Refleksi dan Nostalgia part #1

Setelah sekian lama saya mulai merindukan kembali kegiatan menulis. ketika jari-jari menjelajah ke media sosial lalu tiba-tiba menemukan akun blogspot saya yang lama sudah terbengkalai rasanya saya kembali menemukan diri saya setelah sekian lama berkelana entah kemana. Ketika membuka step demi step saya seperti diingatkan kembali pada refleksi atas pencapaian diri saya sampai saat ini. semacam spion untuk melirik kebelakang dan menentukan arah kedepan. pastinya selama kurun waktu 2 tahun ini saya tidak berhenti berproses, beberapa cerita singkatnya akan saya uraikan disini:

-Tahun 2017-
Diawal tahun saya memutuskan tidak memperpanjang kontrak menjadi pemandu Museum. Setelah Allah menitipkan saya putri kecil dengan dilema antara kerja atau menjadi ibu rumah tangga yang selalu mengiang dikepala saya memutuskan untuk resign dan pindah kota ke kota Kelahiran suami saya, kota Tegal. Bagaimana perasaan berani resign dengan posisi yang lumayan sudah nyaman disebuah instansi?
rasanya pasti pertempuran hati yang sangat luar biasa sekali disamping faktor saya memiliki pembantu rumah tangga yang kurang tanggap dan kurang cerdas sehingga sayapun kurang tentram dibuatnya ketika mendampingi si anak. 

Disamping itu peranan buku-buku yang sering saya baca tentang parenting membuat saya terserang yang namanya arus tsunami informasi. semua yang masuk dalam otak saya olah dan proses hampir setiap hari, namun nyatanya ada satu hal yang tak bisa kita belah dari diri kita sendiri apa itu keberadaan dan waktu. dahulu sebelum punya anak pikiran hanya tertuju pada konsentrasi kerja namun sejak ada si kecil ada dunia lain yang menarik untuk dipelajari namun tiketnya memang saya harus merelakaan yang lain untuk satu hal yang lebih berharga.

menapaki awal-awal tahun kepindahan dan perubahan dari yang biasanya memiliki rutinitas kerja yang teratur membuat saya sempat merasa "shockterapi". emosi sering naik turun, namun lambat laun saya mulai menerima apa yang ada dihadapan, menikmati setiap prosesnya dan semakin hari semakin menerima. apalagi saya setiap hari bisa melihat proses anak saya tumbuh dan berkembang bukan dari tangan orang lain tapi dari tangan saya sendiri, ibunya.

rutinitas berubah, dan banyak sekali tantangan terutama dalam hal financial yang biasanya saya bisa membantu suami sekarang pondasi kami hanya ditopang suami saja. Sedangkan saya fokus untuk mendampingi dan melakukan eksekusi dilapangan. Rumah yang tadinya sebagai tempat untuk beristirahat dan sesekali weekend lama dihabiskan dirumah menjadi kantor bagi saya. Disini saya merasakan peran buku sangat mendampingi dan membantu saya ketika saya butuh teman. 


- Tahun 2018-

Alhamdulilah disamping kesibukan mengurus anak dan rumah saya memberanikan diri menjadi kader posyandu dan pendamping pkk. Hampir setiap kegiatan survei dan kemasyarakatan saya ikuti, namun kembali dilema melanda saya karena saya sering mulai meninggalkan si kecil sendiri bersama kakeknya. padahal kakeknya juga tidak bisa mendampingi sepenuhnya (raga hadir, jiwa entah kemana). saya mulai mengoreksi kembali diri saya sendiri bahwa kemarin saya resign kerja dengan niatan mendampingi anak bukan untuk kesibukan kerja yang lain, kok malah judulnya mengalihkan. Disamping itu rekan-rekan kerja yang saya temui kebanyakan adalah pendidikan yang sma, jiwa juang tidak begitu kuat, orientasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar